Pria aneh dengan sekotak cinta - I am in love with this sweet sugar (P)


Aku berjalan menyusuri lorong yang panjang dan membosankan di sekolahku, dengan dua buah novel tebal di dekapan tangan kiri dan menenteng kantong plastik yang berisi beberapa dvd di tangan kanan. Sesekali tangan kananku menaikkan gagang kacamata yang merosot di hidung pesekku. 
“Air mineral dingin satu, Bu.” Aku mengeluarkan uang lima ribu rupiah dan memberikannya ke ibu kantin. Mencari-cari dimana meja yang masih kosong, ketika dapat aku segera ke sana. Kakiku menarik pelan kaki kursi agar keluar dari bawah meja.
“Perlu bantuan, aneh?” Segerombolan anak-anak terkenal mendatangiku.
      
“Tidak, tidak perlu, aku bisa sendiri.”
    
“Mungkin kamu perlu sedikit lelucon, agar hidupmu tidak seaneh wajah dan tingkahmu.” Kata salah satu anak lelaki dari gerombolan tersebut yang mungkin adalah pemimpinnya. Aku kerap bingung, kenapa zaman sekarang untuk mempunyai sekumpulan teman saja harus mempunyai pemimpin? Mereka berteman bukan bekerja.
     
Tiba-tiba lelaki tadi menarik kursi yang sudah aku tarik keluar hingga terjatuh. “Hahahaha, silahkan duduk, aneh!!” Segerombolan anak tadi pergi ke meja lain dengan tertawa senang melihat pemimpinnya menjatuhkan kursiku.
       
Aku hanya tersenyum singkat, tidak apa, jangan bersedih untukku karena aku sudah biasa diperlakukan begitu oleh mereka semua. Bagi mereka aku hanya lelaki aneh dengan paras yang jelek dan baju yang sangat ketinggalan zaman. Apalagi aku suka membaca buku-buku tebal dan menonton film mengenai zombie ataupun pembunuhan. Setidaknya aku tidak berteman dengan syarat tertentu. Dan lagi pula tahun depan aku tidak akan bertemu lagi dengan mereka.
    
Setelah menaikkan kursi yang dijatuhkan tadi, aku mulai membaca salah satu novel mengenai pembunuhan. Tetapi mataku terhenti ketika melihat perempuan di meja depanku. Rambutnya panjang, hitam, dan sedikit bergelombang. Matanya bulat berwarna coklat. Ketika ia tertawa lesung pipi kiri dan kananya akan timbul. Ia memiliki gigi kelinci. Penggambaran yang tepat untuk kata manis, manis seperti gula. Tapi sayangnya aku terlalu takut bahkan hanya untuk berkenalan dengannya. Karena aneh tidak pernah dipasangkan dengan manis.
------
Mataku tidak bisa lepas darinya. Semua gerak-geriknya menarikku semakin dalam, menghipnotisku untuk selalu melihatnya lagi dan lagi. Bahkan gerakannya ketika mengikat rambut saja begitu manis. Rasanya terlalu sayang untuk melihat yang lain dan meninggalkan beberapa gerakan darinya.
      
Perempuan ini membuatku ketergantungan semenjak pertama kali aku melihatnya menggunakan pita berwarna-warni saat MOS. Dia begitu manis dengan pita-pita itu, sedangkan aku begitu aneh dengan mahkota daun di kepalaku. Sejak itu aku tanpa sadar aku selalu mencarinya. Jika sehari saja tidak melihatnya, saraf-saraf di otakku akan berontak dan mengirimkanku pesan agar aku segera mencarinya.
      
Susah memang, apalagi kasta kami berbeda. Aku hanya dipandang sebelah mata di sekolah ini, mungkin sebelah mata pun tidak, karena aku hanya sebuah debu yang menganggu diantara barang-barang mewah. Terkadang aku merasa rendah, merasa ingin sekali pergi jauh dari sini, tapi aku lebih sering merasa bahwa aku ingin seperti mereka yang lain. Mereka yang mempunyai barang mewah, mereka yang mempunyai teman yang banyak,  dan mereka yang dipandang oleh dua belah mata.
     
Tapi aku juga merasa beruntung dilahirkan seperti ini. Setidaknya aku benar-benar tahu siapa temanku. Kadang aku sedih melihat pertemanan di sekolah ini, mereka terllihat sangat kompak di depannya tapi dibalik itu banyak hujatan-hujatan yang dilontarkan. Sedih bukan ketika kamu percaya terhadap seseorang tetapi dia menjelekkanmu di belakang?
     
Aku kembali melihatnya dari balik kaca ruang jurnal. Kegiatan ekstrakulikuler kami berbeda, aku mengikuti kelas jurnal yang peminatnya hanya segelintir, sedangkan ia mengikuti kelas paduan suara yang termasuk dalam esktrakulikuler favorit. Beruntungnya ruangan kami bersebrangan dan dengan kaca yang transparan. Sehingga aku leluasa melihat gerak-geriknya.
     
Entah apa yang membuatku berani untuk jatuh cinta padanya. Padahal kami sangat bertolak belakang. Mana mungkin perempuan yang populer seperti dia mau denganku yang aneh, bertubuh tinggi dan kurus, berambut cepak, memakai kacamata tebal, bergigi tidak rapi, kutu buku, menyukai hal-hal yang berbau zombie dan pembunuhan, serta dari keluarga yang bukan apa-apa ini. Namun, jatuh cinta memang tidak mengenal tempat kan? Kalau tempatnya bisa kita tentukan, itu bukan jatuh namanya.
------

Komentar

Posting Komentar